A. PENGERTIAN POLA
ALIH TUTUR
Pergantian tutur berkenaan dengan pergantian peran penutur dan mitra
tutur. Sebuah percakapan ditandai dengan adanya perubahan peran dari penutur
menjadi mitra tutur atau sebaliknya. Peristiwa pergantian peran tersebut
dinamakan peristiwa alih tutur atau pola alih tutur.
Pola alih tutur berkaitan dengan cara mengambil giliran bicara. Hal
tersebut dikarenakan, jika menggunakan cara mengambil giliran bicara dengan
baik, pola alih tutur akan berjalan dengan baik pula sehingga percakapan dapat
berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
B. UNSUR-UNSUR
WACANA PERCAKAPAN
Unsur-unsur wacana percakapan yang dibahas di sini adalah giliran tutur,
pasangan berdekatan, saluran belakang, interupsi, dan hak berbicara.
1.
Giliran Tutur
Giliran tutur
dalam suatu percakapan sangat penting. Ismari (1995: 17) mengemukakan bahwa
giliran tutur merupakan syarat percakapan yang dapat menimbulkan pergantian
peran peserta. Giliran tutur dapat mengefektifkan informasi dari penutur yang
diberikan pada mitra tutur. Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, guru
dapat mengajarkan siswa cara mengambil alih giliran bicara dan memberikan
giliran bicara.
Giliran
tutur di dalam kelas dapat menggunakan kaidah-kaidah alih tutur, yakni (a) jika
pada saat tertentu telah ditentukan teknik alih tutur dengan menunjuk penutur
berikutnya, penutur yang ditunjuk mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil
alih giliran tutur tersebut, (b) jika alih tutur tidak dibentuk dengan
menentukan penutur berikutnya, kelompok yang mengadakan percakapan dapat
memilih sendiri penutur berikutnya, dan (c) jika alih tutur tidak dilakukan
dengan menunjuk penutur berikutnya, penutur terdahulu dapat melanjutkan
tuturannya.
2.
Pasangan Berdekatan
Menurut Cook (dalam Rani, 2004: 205), pasangan ujaran
terdekat itu terjadi apabila ujaran seseorang dapat membuat atau memunculkan
suatu ujaran lain sebagai tanggapan. Pasangan terdekat itu terdiri atas dua
ujaran. Ujaran pertama merupakan ujaran penggerak atau pemicu ujaran kedua.
Ujaran kedua merupakan tindak lanjut atau tanggapan atas ujaran pertama. Richard
dan Schmidt (dalam Rani, 2004: 207) mendeskripsikan beberapa kemungkinan
pasangan ujaran tersebut. Berikut adalah pembagian dan contoh pasangan ujaran
terdekat.
a.
Salam-salam
Riah : “Assalamu’alaikum.”
Halimah : “Wa’alaikumsalam.”
b.
Panggilan-jawaban
Rumi : “Janah!”
Janah : “Ya. Ada apa?”
c.
Tanya-jawab
Okta : “Hari ini kau ke kampus?”
Ani : “Tidak. Badanku tidak enak.”
d.
Salam
pisah-salam jalan
Ida : “Selamat berpisah.”
Desi : “Selamat jalan.”
e.
Menuduh-mengakui,
mengingkari, membenarkan, memaafkan diri, dan menantang.
Rusma : “Kau tidak cuci piring hari ini, ya!”
Nuri : “Iya. Maaf ya.” (mengakui)
Nuri : “Semua sudah kuselesaikan siang
tadi.” (mengingkari)
Nuri : “Aku capek banget hari ini.” (membenarkan)
Nuri : “Seharusnya kan itu tugasmu.” (memaafkan diri)
Nuri : “Kalau iya terus kau mau
menghukumku?” (menantang)
f.
Menawari-menerima
dan menolak
Gani : “Ikut ke kantin?”
Ha
Em : “Aku juga sudah lapar.” (menerima)
Ha
Em : “Aku baru saja dari sana.” (menolak)
g.
Memohon-
mengabulkan, menangguhkan, menolak, dan menantang
Nurul : “Maukah kau temani aku ke toko buku
sekarang?”
Adah : “Baiklah.” (mengabulkan)
Adah : “Tapi aku mau mandi dulu.” (menangguhkan)
Adah : “Tidak bisa. Aku sudah janji kerja
kelompok hari ini.” (menolak)
Adah : “Kenapa kau terus merepotkanku?” (menantang)
h.
Pujian-menerima,
menyetujui, menolak, menggeser, dan mengembalikan.
Mia : “Kau terlihat cantik dengan
kerudung itu.”
Herna : “Makasih ya.” (menerima)
Herna : “Aku juga merasa seperti itu.” (menyetujui)
Herna : “Tidak juga. Aku masih belajar
berkerudung.” (menolak)
Herna : “Aku membelinya di pasar tungging
kemarin.” (menggeser)
Herna : “Kau juga terlihat cantik dengan gaya
kerudung itu.” (mengembalikan)
3.
Saluran Belakang
Sebuah percakapan tentu memiliki giliran tutur agar percakapan
tersebut bersifat efektif. Dalam giliran yang lebih luas, para penutur
mengharapkan mitra tutur mereka menunjukkan suatu hal sebagai tanda bahwa mitra
tutur menyimak pembicaraan penutur. Ada banyak cara berbeda untuk melakukan hal
ini, termasuk menganggukkan kepala, tersenyum, ekspresi-ekspresi wajah, dan
berbagai gerakan anggota tubuh lainnya. Indikasi-indikasi vokal yang paling
umum dalam hal tersebut disebut sinyal-sinyal saluran belakang (backchannel) atau saluran belakang.
Contoh:
Rumi : “Kemarin kan kita sudah mempelajari tentang
jenis-jenis makna.”
Janah : “Uh-uh.”
Rumi : “Kan ada makna referensial dan
non-referensial.”
Janah : “Ya (menganggukkan kepala).
Rumi : “Nah, tugas minggu depan kita disuruh
memberikan perbedaan dari kedua makna itu.”
Janah : “Mmm. Iya (tersenyum).”
Percakapan antara Rumi dan Janah mengandung
sinyal-sinyal dari Janah sebagai mitra tutur. Sinyal-sinyal yang diberikan
Janah (uh-uh, ya, mmm, iya) dinamakan saluran belakang. Hal tersebut termasuk
umpan balik yang dia berikan kepada Rumi sehingga Rumi merasa pesan yang dia
berikan diterima oleh Janah. Sinyal-sinyal tersebut menunjukkan bahwa mitra
tutur mengikuti dan tidak keberatan tentang hal yang dikatakan oleh penutur.
4.
Interupsi
Interupsi adalah mengambil alih giliran
berbicara karena penutur yang akan mengambil alih giliran bicara merasa bahwa
pesan yang perlu disampaikan oleh penutur sebelumnya sudah cukup sehingga
giliran bicara
diambil alih oleh penutur selanjutnya. Interupsi
juga didefinisikan sebagai tindakan yang memotong pembicaraan orang lain. Interupsi
dianggap merusak komunikasi karena dilakukan secara sepihak. Seseorang yang
melakukan interupsi secara langsung telah memotong pembicaraan orang lain.
Contoh:
Riah :
“Kemarin saya berjalan melewati taman kota menuju jalan A. Yani ingin pulang. Kemudian
tanpa ….”
Halimah :
“Maaf, saya interupsi. Bukankah rumah Anda di jalan Hasan Basry?”
Riah :
“Itu rumah kakak saya.”
5.
Hak Berbicara
Hak berbicara atau Transition
Relevance Place (TRP) merupakan tempat terjadinya perubahan giliran
yang mungkin terjadi. Hak berbicara bagi penutur secara langsung dapat
diberikan untuk penutur lainnya atau menurut pilihannya atau secara tidak
langsung juru bicara dapat melemparkannya pada siapa saja saat pembicaraannya
sedang hangat. Peserta tutur dapat ikut serta dalam pertuturan secara langsung
dan mengambil alih tuturan tetapi tidak semua peserta tutur dapat mengambil
alih tuturan atau memotong tuturan. Oleh karena itu, terdapat giliran tutur
yang akan memandu pada tuturan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Rani, Abdul, Bustanul
Arifin, dan Martutik. 2004. Analisis
Wacana. Malang: Bayumedia Publishing.
Yule, George.
2006. Pragmatik. (Jumadi,
Penerjemah). Banjarmasin: PBS FKIP Universitas Lambung Mangkurat.